Monday, 1 June 2015

Cerita Magang

Pada tahun lalu tepatnya bulan September disaat liburan semester 4 saya dan teman saya mencoba medaftarkan magang di Bank Indonesia. Akses masuk Bank Indonesia sangat sulit tetapi alhmadulillah kami mendapatkan kesempatan magang di sana.

Kami sudah menitipkan lamaran kepada resepsionis namun karena data tertumpuk kami harus membuat lagi syarat-syarat tersebut.

Saya dan Iing ditempatkan di Departemen Kebijakan Makroprudensial. Di sana kami diharuskan membawa laptop sendiri karena tidak tersedia komputer kosong.

Hari pertama cukup membuat pusing, kerjaan magang hanya menginput data namun kami ditugaskan menginput data keuangan seluruh perusahaan asuransi di Indonesia yang jumlah hampir 100 perusahaan.

Awal minggu pertama sangat melelahkan karena jarak rumah dan kantor sangat jauh. Jam masuk kantor di Departemen adalah 7.10 pagi, maka saya pun berangkat sebelum subuh dari rumah dan solat subuh di stasiun.

Pengalaman magang tersebut memiliki banyak sekali suka & duka dan semoga ilmu yang saya dapatkan bermanfaat aamiin.

Trip to Jogja part3

26 Februari saya dan iing pergi untuk membeli oleh-oleh khas jogja yaitu batik dan bakpia. Kami diantar oleh temannya Sandy bernama Sigir dan salah satu teman kuliahnya. Pertama kami pergi ke pasar beringharjo tapi karena terlalu rapi kami sulit menawar. Setelah selesai berbelanja akhirnya kami makan siang di foodcourt beringharjo, harga cukup murah dibanding di bogor.

Selesai makan kami pergi mencari bakpia 25, setelah bertanya kepada banyak orang akhirnya kami sampai di pabrik bakpia 25. Harga bakpia 25 adala 32rb/kotak. Setelah puas memebeli oleh-oleh kami kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Malam harinya kami jalan ke tugu jogja. Keadaan di Tugu jogja sangat ramai sekali. Di sana terdapat banyak angkringan makanan yang cukup murah. Angkringan pun menjadi tempat makan malam yang dipilih untuk hari terkahir di jogja, perorang cukup siapkan 15rb,

Selesai menikmati makan malam kami pergi ke 0 km Jogjakarta di dekat Malioboro. Banyak sekali wisatawan dalam dan luar negeri berkumpul. Banyak orang yang berpakaian kostum unik untuk berfoto bersama kita hanya memberikan uang sukarela. Perjalanan kami pun ditutup disini, semoga liburan semester depan lebih menyenangkan. :))

25 Februari 2015

Pada tanggal 25 Februari kami telah memesan trip dari Ayokejogja.com untuk pergi ke Kalibiru dan Pantai Glagah dengan paket harga yang cukup terjangkau 175rb/org.

Paket itu sudah termasuk 2 motor, 2tour guide, &tiketmasuk. Kami dijemput jm 7 pagi dari penginapan lalu langsung menuju kalibiru. Perjalanan cukup panjang tetapi nyaman karena ga macet dan smua pengendara tertib, salut buat jogja ke pasar aja pake helm. :)

Sampai di kalibiru jam 9 pagi, pohon yang biasa dipakai foto oleh para wisatawan belum buka. Mas dari ayokejogja menyarankan untuk foto-foto terlebih dahulu dengan kamera yang mereka bawa, itu sudah termasuk dari pakte wisata 175rb/org.

Tiket foto di atas pohon kalibiru seharga 10rb/org dan bebas untuk berapa lama sampai puas asal yang dibawah gak ngantri. Saya menyuruh mas tourguide foto pakai handphone namun hasilnya gelap dan jelek. Jadi saya saranin buat pake kamera yanga ad flashnya aja mungkin membantu.

Di Kalibiru saya akhirnya mendapatkan kabar dari teman kelas saya untuk mengajak temannya kuliah di Jogja mengantar saya untuk keliling Jogja, itu sangat kabar baik buat saya dan iing.

Puas foto-foto di kalibiru kami lanjut ke pantai glagah. Cuacanya cukup panas akhirnya kami makan siang dulu. Setelah makan sholat dzuhur dan berfoto di pantai glagah yang berpasir hitam.

Jam 3 sore kami pun sampai dipenginapan lalu mandi dan sholat ashar. Sorenya kami mencoba jalan ke alun-alun selatan dan naik sepeda lampu warna-warni.

ini beberapa foto di kalibiru dan pantai glagah












Trip to Jogja part2

Setelah lama menunggu kami menitipkan barang bawaan kami dan pergi berjalan mencari keraton Jogja. Dikarenakan tidak tahu jalan akhirnya kami nyasar lagi. Yang seharusnya naik becak atau transjogja kami malah jalan kaki. Saya merasa sangat capek dan lengket karena belum mandi dari pagi.

Samapi di keraton saya hanya melihat-lihat dan foto saja. Karena lelah kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sore hari tanggal 24 Februari kami pergi mencari kuliner jogja bernama warung tenda bang ido di jalan kaliurang. Tempat itu terhitung jauh dari penginapan namun karena sudah ingin merasakan kue cubit dan telor-teloran terkenal itu kami pun nekat. Ternyata warung tenda bang ido ramai sekali dari anak sekolahan sampai orang-orang yang sedang liburan banyak yang menikmati tempat tersebut. Pesanan kami datang 1 jam setelah memesan dan kami lanjut pergi ke taman pelangi.

Transjogja ke taman pelangi sangat lama akhirnya kami terburu-buru untuk melihat taman tersebut karena takut kehabisan shift transjogja. Kami selesai dari taman pelangi skitar jam 21.00 malam dan ternyata transjogja sudah tidak beroperasi. Taxi pun jarang sekali lewat di jogja, tidak ada kendaraan lain selain ojek, akhirnya kami hanya memberikan nama jalan penginapan kami karena kami sangat tidak tahu jalan.

Setelah lama mencari alamat penginapan akhirnya kami sampai dan beristrirahat dari hari yang melelahkan. :))

Trip to Jogja part 1

Beberapa bulan lalu pada libur semester 5, saya dan teman-teman saya merencanakan liburan ke Jogja. Namun dikarenakan suatu hal, mereka semua membatalkan liburan tersebut karena banyak hal bermacam-macam. Pada akhirnya saya dan teman saya yang bernama Iing Apriyanti tetap memberanikan diri untuk pergi ke Jogja.

Tanpa persiapan yang cukup matang kami hanya mengandalkan internet, kami memesan tiken online di PT KAI dan memebayarnya di Indomart. Pada tanggal keberangkatan uang kami pun pas-pasan, maklum kami bukan dari orang kaya raya yang bisa meminta uang pada orangtua. Saya mengandalkan uang beasiswa yang saya simpan di Ibu saya namun dikarenakan hari pemberangkatan tanggal tua, ibu saya belum memberikan uang tersebut.

Akhirnya kami berdua pun berangkat ke Jogja dengan naik kereta terlebih dahulu dari Bogor menuju Stasiun Kemayoran lalu naik bajaj ke Stasiun Pasar Senen. Sesampainya kami pun mencetak tiket pemberangkatan dan kepulangkan kami. Tepat 22.30 malam tanggal 23 Februari 2015 kami berangkat dengan kereta api ekonomi menuju Jogja.

Kami sampai di Jogja jam 7.00 pagi lalu kami pun segera sarapan dengan soto daging. Setelah sarapan kami akhirnya memutuskan naik becak ke halte transjogja tetapi kami tertipu oleh tukang becak, kami diturunkan di pinggir jalan. Kami akhirnya berjalan menuyusuri jalan transjogja dan akhirnya bisa menemukan halte transjogja.

Kami memesan sebuah kamar di pondok 71, tetapi kami tidak tahu persis tempat penginapan tersebut dan alhasil kami nyasar. Untung saja ada tukang becak yang memberithu kami akhirnya kami sampai , akan tetapi kami harus menunggu checkin jam 12 siang, sedangkan kami sampai jam 9.00 pagi.

Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi. Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil penelitian kualitatif; dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi). Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada tesis, dan tesis mencakup bahasan yang lebih luas atau lebih dalam daripada skripsi. Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian. Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidak hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional. Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.

Aspek Permasalahan
Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan "asli" bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan. Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.
Identifikasi masalah untuk skripsi dapat didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis—terlebih lagi untuk disertasi—perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji. Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.

Aspek Kajian Pustaka
Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama. Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelitiannya dengan penelitian lain yang sejenis. Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas, (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya, (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan, dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.
Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber primer dan dapat juga menggunakan sumber sekunder, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber primer (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian). Untuk disertasi, penggunaan sumber primer merupakan keharusan.

Aspek Metodologi Penelitian
Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid. Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup. Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid. Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.
Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.
Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.
Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel. Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji. Dalam penelitian kualitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.

Aspek Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian. Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran.
Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
Hasil penelitian skripsi yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya diarahkan untuk da¬pat diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang bermutu, sedangkan hasil penelitian tesis dan disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang bermutu.

Aspek Kemandirian

Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah. Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi. Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut. Untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing. Untuk tesis, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, persentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.
Sumber: doc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=1725

Friday, 24 April 2015

artikel ilmiah, semi ilmiah, non ilmiah



ILMIAH
Masih banyak siswa SMP Negeri 9 Berau yang belum peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Mereka masih saja membuang sampah sembarangan, padahal sudah disediakan tong sampah. Kebanyakan mereka   berfikir, jika membuang sampah sembarangan di sekolah tidak dapat   menimbulkan dampak yang begitu besar. Hal itu sangat salah. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan jika suatu lingkungan tidak terjaga kebersihannya. Adapun dampak negatifnya antara lain :
  •  Menimbulkan bencana banjir, seperti yang sering kita lihat di kota-kota besar. Hal ini bisa saja terjadi di sekolah kita jika murid selalu membuang sampah sembarangan. Sampah yang bertumpuk di selokan dapat menyumbat jalannya air di selokan tersebut sehingga, saat hujan pun tiba, mungkin saja SMP kita menjadi banjir dan akhirnya proses belajar-mengajar terhenti 
  • Debu lantai yang jarang dibersihkan dapat menyebabkan murid batuk hingga sesak nafas. Laci meja yang penuh dengan sampahpun dapat dijadikan nyamuk sebagai tempat bersarangnnya. Apalagi jika nyamuk tersebut adalah nyamuk Aedes Aegypty yang dapat menyebabkan seseorang mengidap penyakit demam berdarah 
  • Sampah yang bertumpuk dapat menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu konsentrasi para murid hingga guru dalam proses belajar-mengajar. 
NON ILMIAH
PERADILAN RAKYAT
Cerpen Putu Wijaya

            Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

            "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

            Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

            "Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
            Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
            "Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
            Pengacara muda itu tersenyum.
            "Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
SEMI ILMIAH
Gempa Mentawai Mampu Picu Gempa Lebih Besar 
Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Gempa 7,2 dalam Skala Richter (SR) yang terjadi di Kepulauan Mentawai mampu memicu gempa lebih besar (megathrust) dari gempa sebelumnya.

            "Kalau ditanya kemungkinan terjadi, bisa saja kemungkinan itu terjadi," kata Kepala Bidang Gempa Bumi dan Pergerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMG), I Gede Swantika, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/10/2010).
Namun, dia melanjutkan, kemungkinan megathrust tidak terjadi dalam waktu dekat. Pusat gempa berada di zona subduksi atau daerah penunjaman yang mengarah ke barat.
"Tidak dalam waktu dekat, bisa jadi berpuluh-puluh tahun nanti," ujarnya.
Gede mengatakan, gempa hebat yang melanda kepulauan Mentawai pada Senin lalu berada di luar jalur Mentawai. Berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya, yaitu gempa Padang, Nias, Bengkulu, dan Aceh, yang terjadi di jalur Mentawai.
"Karena berada di jalur yang sama itu gempa saling mempengaruhi gempa-gempa di Sumatra," katanya.
Sedikitnya 113 orang tewas dalam musibah gempa dan tsunami pada Senin (25/10/2010). Tsunami setinggi 3-7 meter adalah penyebab banyaknya korban tewas dibandingkan dengan gempa 7,2 SR yang terjadi pukul 21.40 WIB. (ahy/nrl)
(http://www.detik.com/, 27 Oktober 2010)



SUMBER :
http://yully-yulianti.blogspot.com/2013/10/artikel-dengan-ragam-bahasa-ilmiah-semi.html